Mayoritas alumni Madāris pada saat ini berada pada rentang usia delapan belas sampai dua puluh lima tahun — rentang yang dalam psikologi perkembangan dikenali sebagai fase tersendiri, emerging adulthood, yang ditandai oleh frekuensi perpindahan tertinggi dan struktur pegangan terendah sepanjang rentang hidup.1
Kajian mengenai putus studi menunjukkan pola yang searah. Dalam model student departure, keputusan seorang pelajar untuk bertahan atau berhenti lebih ditentukan oleh derajat keterhubungan sosialnya dengan lingkungan baru daripada oleh kemampuan akademiknya.2 Dengan kata lain, kerentanan pada masa peralihan bukanlah persoalan mutu lulusan, melainkan persoalan jejaring.
Lulus bukan berarti dilepas.
Atas dasar itu MAʿAN dirancang sebagai jaringan yang bekerja terus-menerus, bukan sebagai agenda tahunan. Nilai sebuah jaringan alumni, sebagaimana ditunjukkan dalam kajian modal sosial, justru terletak pada kemampuannya menyeberangkan orang antarkelompok — bridging social capital — bukan pada eratnya lingkaran yang sudah saling kenal.3 Konsekuensi rancangannya langsung: pengelompokan anggota disusun menurut kota domisili, bukan menurut tahun angkatan.